Banyak orang beranggapan, mengajar
bahasa Indonesia itu mudah. Proses belajarnya lancar, semulus perjalanan di
jalan tol. Di rumah, di sekolah, di jalan, sudah lazim bahasa Indonesia
digunakan. Namun, penggunaan bahasa Indonesia boleh
jadi tak berimbas sama sekali di bangku sekolah jika guru tak jeli dalam memola
pembelajaran. Hal tersebut akan mubadzir, dan lenyap begitu saja jika guru
masih tetap menomorsatukan membaca dan menulis sebagai isi pembelajaran bahasa.
Padahal ada aspek lain yang juga perlu diasah lewat pembelajaran bahasa, yaitu
keterampilan mendengar dan berbicara. Sebagai sebuah keterampilan dasar
berbahasa, keempat keterampilan ini harus mendapatkan porsi asah (belajar) yang
sama. Salah besar jika guru bahasa hanya mengajak anak didiknya membaca buku
paket lalu mengerjakan soal saja.
Pemahaman
belajar bahasa dan sastra indonesia di sekolah sangat penting. Salah satu mata
pelajaran yang di ujian nasionalkan ini berkaitan erat dalam hal mengajarkan kreativitas.
Aspek kreativitas itu diukur dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu
keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Pada jenjang Sekolah Dasar, alokasi
waktu yang disediakan untuk pelajaran bahasa Indonesia cukup ideal. Antara
delapan sampai sepuluh jam pelajaran per minggunya. Ketersediaan waktu yang
cukup luas ini sebenarnya merupakan tantangan bagi guru untuk memola
pembelajaran yang kreatif dan rekreatif, dengan tetap berdasar pada kurikulum.
Misalnya materi berwawancara dengan nara sumber. Mungkin biasanya cukup
dilakukan hanya dengan membaca buku paket, lalu menyimpulkan dan menjawab
pertanyaan. Namun, jauh baik jika guru mengajak siswa untuk melajukan wawancara
sederhana sungguhan. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu mereka
diminta untuk menentukan orang yang akan mereka wawancarai. Sebelum terjun ke
lapangan, mereka menyiapkan alat yang diperlukan (tape recorder, notebook,
pulpen) serta menyusun daftar partanyaan wawancara. Baru kemudian tiap kelompok
membuat laporan dan mempresentasikannya di kelas. Saat presentasi, kelompok
yang lain dapat mengajukan pertanyaan. Hal tersebut akan memberikan suasana
berbeda dalam pembelajaran bahasa.
Selain materi tentang wawancara,
pembelajaran drama juga dapat diskenario dengan menarik. Misalnya pembelajaran
drama tentang cerita rakyat. Setelah diajak berdiskusi tentang penulisan drama,
siswa diminta untuk menyusun naskah drama sendiri dan mementaskannya. Tentunya
mereka lebih dahulu dibagi ke dalam beberapa kelompok. Agar siswa mengenal
cerita rakyat, guru dapat menyebutkan beberapa judul cerita rakyat. Dengan
demikian, judul cerita rakyat yang dibawakan tiap kelompok berbeda, jadi lebih
bervariasi.
Dalam pelaksanaanya pendampingan guru
dituntut optimal. Karena ini berkaitan dengan sebuah proses kreatif yang
bersifat individual. Selain itu, guru juga dituntut untuk menerapkan standar
evaluasi yang sesuai. Dalam pembelajaran drama dengan skenario seperti ini,
nilai dapat diambil dari (1) naskah drama; keterampilan menulis dan (2) pentas
drama; mendengar, berbicara, membaca. Dengan demikian, semua aspek keterampilan
berbahasa tertampung dalam pembelajaran dan evaluasi. Dan yang pasti,
pembelajaran menjdi menarik dan tidak membosankan.
Dengan mendesain pengajaran yang kreatif
dan rekreatif siswa tak akan jenuh. Lain halnya jika siswa hanya belajar di
kelas saja. Materinya hanya bersumber pada buku paket. Siswa akan cepat bosan saat belajar.
Sumber
-
Hernowo. 2006. Menjadi Guru Yang Mau Dan Mampu Mengajar Secara Kreatif”. Bandung:MLC.
-
Resmini, Novi. Dkk. 2006. Membaca dan Menulis Di SD. Bandung: UPI
PRESS.
-
Santosa, Puji. 2008. Materi
dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta : Universitas Terbuka.
-
Efendi, Mohammad. 2010. Kreatif
dan Rekreatif Dalam Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://sdalhikmahsby.blogspot.com/2010/10/kreatif-dan-rekreatif-dalam.html.
[24
Oktober 2012].
-
Zan, Mr. 2011. Pembelajaran Kreatif. [Online]. Tersedia: http://mr-zan.blogspot.com/2011/12/-pembelajaran-rekreatif.html.
[24 Oktober 2012].
-
Ahda, Hafizul. 2012. Peran Pembelajaran Bahasa Dan Sastra.
[Online]. Tersedia: http://hafizulahda.blogspot.com/2012/10/peran-pembelajaran-bahasa-dan-sastra.html.
[24
Oktober 2012].
-
Dana, Danar. 2008. Kreatifitas Berbahasa. [Online]. Tersedia: http://danardana.wordpress.com/2008/12/18/kreativitas-berbahasa/.
[24 Oktober 2012].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar