Kamis, 08 November 2012

KREATIF DAN REKREATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


Banyak orang beranggapan, mengajar bahasa Indonesia itu mudah. Proses belajarnya lancar, semulus perjalanan di jalan tol. Di rumah, di sekolah, di jalan, sudah lazim bahasa Indonesia digunakan. Namun, penggunaan bahasa Indonesia boleh jadi tak berimbas sama sekali di bangku sekolah jika guru tak jeli dalam memola pembelajaran. Hal tersebut akan mubadzir, dan lenyap begitu saja jika guru masih tetap menomorsatukan membaca dan menulis sebagai isi pembelajaran bahasa. Padahal ada aspek lain yang juga perlu diasah lewat pembelajaran bahasa, yaitu keterampilan mendengar dan berbicara. Sebagai sebuah keterampilan dasar berbahasa, keempat keterampilan ini harus mendapatkan porsi asah (belajar) yang sama. Salah besar jika guru bahasa hanya mengajak anak didiknya membaca buku paket lalu mengerjakan soal saja.

Pemahaman belajar bahasa dan sastra indonesia di sekolah sangat penting. Salah satu mata pelajaran yang di ujian nasionalkan ini berkaitan erat dalam hal mengajarkan kreativitas. Aspek kreativitas itu diukur dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Pada jenjang Sekolah Dasar, alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran bahasa Indonesia cukup ideal. Antara delapan sampai sepuluh jam pelajaran per minggunya. Ketersediaan waktu yang cukup luas ini sebenarnya merupakan tantangan bagi guru untuk memola pembelajaran yang kreatif dan rekreatif, dengan tetap berdasar pada kurikulum. Misalnya materi berwawancara dengan nara sumber. Mungkin biasanya cukup dilakukan hanya dengan membaca buku paket, lalu menyimpulkan dan menjawab pertanyaan. Namun, jauh baik jika guru mengajak siswa untuk melajukan wawancara sederhana sungguhan. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu mereka diminta untuk menentukan orang yang akan mereka wawancarai. Sebelum terjun ke lapangan, mereka menyiapkan alat yang diperlukan (tape recorder, notebook, pulpen) serta menyusun daftar partanyaan wawancara. Baru kemudian tiap kelompok membuat laporan dan mempresentasikannya di kelas. Saat presentasi, kelompok yang lain dapat mengajukan pertanyaan. Hal tersebut akan memberikan suasana berbeda dalam pembelajaran bahasa.
Selain materi tentang wawancara, pembelajaran drama juga dapat diskenario dengan menarik. Misalnya pembelajaran drama tentang cerita rakyat. Setelah diajak berdiskusi tentang penulisan drama, siswa diminta untuk menyusun naskah drama sendiri dan mementaskannya. Tentunya mereka lebih dahulu dibagi ke dalam beberapa kelompok. Agar siswa mengenal cerita rakyat, guru dapat menyebutkan beberapa judul cerita rakyat. Dengan demikian, judul cerita rakyat yang dibawakan tiap kelompok berbeda, jadi lebih bervariasi.
Dalam pelaksanaanya pendampingan guru dituntut optimal. Karena ini berkaitan dengan sebuah proses kreatif yang bersifat individual. Selain itu, guru juga dituntut untuk menerapkan standar evaluasi yang sesuai. Dalam pembelajaran drama dengan skenario seperti ini, nilai dapat diambil dari (1) naskah drama; keterampilan menulis dan (2) pentas drama; mendengar, berbicara, membaca. Dengan demikian, semua aspek keterampilan berbahasa tertampung dalam pembelajaran dan evaluasi. Dan yang pasti, pembelajaran menjdi menarik dan tidak membosankan.
Dengan mendesain pengajaran yang kreatif dan rekreatif siswa tak akan jenuh. Lain halnya jika siswa hanya belajar di kelas saja. Materinya hanya bersumber pada buku paket. Siswa  akan cepat bosan saat belajar.

Sumber
-        Hernowo. 2006. Menjadi Guru Yang Mau Dan Mampu Mengajar Secara Kreatif”. Bandung:MLC.
-        Resmini, Novi. Dkk. 2006. Membaca dan Menulis Di SD. Bandung: UPI PRESS.
-        Santosa, Puji. 2008. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta : Universitas Terbuka.
-        Efendi, Mohammad.  2010. Kreatif dan Rekreatif Dalam Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://sdalhikmahsby.blogspot.com/2010/10/kreatif-dan-rekreatif-dalam.html. [24 Oktober 2012].
-        Zan, Mr. 2011. Pembelajaran Kreatif. [Online]. Tersedia: http://mr-zan.blogspot.com/2011/12/-pembelajaran-rekreatif.html. [24 Oktober 2012].
-        Ahda, Hafizul. 2012. Peran Pembelajaran Bahasa Dan Sastra. [Online]. Tersedia: http://hafizulahda.blogspot.com/2012/10/peran-pembelajaran-bahasa-dan-sastra.html. [24 Oktober 2012].
-        Dana, Danar. 2008. Kreatifitas Berbahasa. [Online]. Tersedia:  http://danardana.wordpress.com/2008/12/18/kreativitas-berbahasa/. [24 Oktober 2012].



Rabu, 07 November 2012

HIDUP ADALAH PILIHAN

Ada 2 bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar, aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini dan menjulangkan tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dipucuk-pucuk daunku”...Dan bibit itu pun tumbuh, makin menjulang.
Bibit kedua bergumam “Aku takut, jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keidahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman”. Dan bibit itu pun menunggu dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi dan menaploknya segera. Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup ini. Selalu saja ada yang harus kita jalani. Namun seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup.
S, Rangkuti. 2011. Kisah Inspiratif Untuk Semua Orang.

Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan
Gagah. Dan karena hidup adalah pilihan,
Maka pilihlah dengan bijak.
(Abraham Wesker)