Lima tahap proses menulis meliputi: pramenulis,
penyusunan konsep, perbaikan, penyuntingan, dan penerbitan.
Ø Tahap 1 : Pramenulis
(Prewriting)
Pramenulis merupakan tahap siap menulis, Murray (1985) menyebut
tahap ini dengan tahap penemuan menulis. Murray (1982) meyakini bahwa 20% atau
lebih waktu tersita pada tahap ini. Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
·
Memilih topik
·
Memikirkan tujuan, bentuk
dan audiens
·
Memanfaatkan dan
mengorganisir gagasan-gagasan
Pada tahap pramenulis siswa berusaha mengemukakan apa yang akan
mereka tulis. Dalam hal ini guru bisa menggunakan berbagai strategi pramenulis
yang diimplementasikan di kelas untuk membantu siswa memilih tema dan
menentukan lncarnya proses menulis. Bila guru menentukan tema untuk siswa dan
tem tersebut tidak sesuai dengan minat serta skemata siswa maka kegiatan
menulis siswa akan terhambat. Misalnya saja dalam pembelajaran menulis cerita,
tema cerita yang harus ditulis siswa harus sesuai dengan minat mereka.
Pada tahap ini siswa mengumpulkan gagasan dan informasi serta
mencoba membuat kerangka atau garis besar yang akan ditulis. Di sini guru dapat
melakukan kolaborasi melaui ramu pendapat, membuat klaster, atau menyusun
daftar ide, sehingga menghasilkan tema dan topik tulisan yang sesuai dengan
minat dan keinginan mereka. Safi’ie (1988) berpendapat bahwa untuk dapat
menemukan perihal pokok karangan yang akan ditulis , maka dapat dilakukan dalam
kegiatan penjajagan ide melalui ramu pendapat. Melalui kegiatan ini juga guru
dapat mengetahui seberapa luas skemata yang dimiliki siswa berkaitan dengan hal
atau topik yang akan dibahas.
Masih dalam taha pramenulis, siswa mulai mencari dan menemntukan
arah dan bentuk tulisannya. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan membaca
untuk menelaah satu bentuk tulisan. Selain melakukan kegiatan membaca,
khususnya dalam memilih topik siswa juga dapat melakukan observasi, membaca
buku dan sastra, serta menggunakan chart dan gambar.
Ø Tahap 2 : Penyusunan
Draf Tulisan (Drafting)
Tahap kedua dalam proses menulis adalah menulis draf. Dalam
proses menulis, siswa menulis dan menyaring tulisan mereka melalui sejumlah
konsep. Selama tahap penyusunan konsep, siswa terfokus dalam pengumpulan
gagasan. Perlu disampaikan kepada siswa bahwa dalam tahap ini mereka tidak
perlu merasa takut malakukan kesalahan. Kesempatan dalam menuangkan ide-ide
dilakukan dengan sedikit memperhatikan ejaan, tanda baca, dan kesalahan
mekanikal yang lain. Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
·
Menulis draf kasar
·
Menulis konsep utama
·
Menekankan pada
pengembangan isi
Penyusunan konsep merupakan tahap saat siswa mengorganisasikan
dan mengembangkan ide yang telah dikumpulkannya lewat kegiatan ramu pendapat
dalam bentuk draf kasar. Misalnya dalam pembelajaran menulis cerita, selama
tahap penyusunan konsep siswa terfokus pada aktifitas menuangkan ide dan
menyusun konsep cerita yang akan dibuatnya.
Untuk
membantu siswa mengembangkan ide dan menyusun konsep tulisannya, dapat dilaukan
pemberian chart struktur cerita sebagai media bagi siswa untuk menuangkan semua
ide ynag dimilikinya. Hal ini diharapkan dapat memudahkan mereka untuk
mengungkapkan idenya berkaitan dengan struktur cerita secara tidak ragu-ragu,
karena pada tahap berikutnya teks yang sudah disusun akan diperbaiki dan
disusun ulang.
Ø Tahap 3 : Perbaikan
(Revising)
Selama tahap perbaikan, penulis menyaring ide-ide dalam tulisan
mereka. Siswa biasanya mengakhiri proses menulis begitu mereka mengakhiri dan
melengkapi draf kasar, mereka percaya bahwa tulisan mereka telah lengkap.
Revisi bukan penyempurnaan tulisan, revisi adalah mempertemukan kebutuhan
pembaca dengan menambah, mengganti, menghilangkan, dan menyusun kembali bahan
tulisan. Kata revisi berarti melihat kembali, pada tahap ini penulis dapat
melihat tulisannya kembali dengan teman sekelas dan guru yang membantu mereka.
Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
·
Membaca ulang draf kasar
·
Menyempurnakan draf kasar
dalam proses menulis
·
Memperbaiki bagian yang
mendapat balikan dari kelompok menulis
Pada tahap perbaikan ini siswa melihat kembli tulisannya untuk
selanjutnya menambah, mengganti, atau menghilangkan sebagian ide dalam
tulisannya. Misalnya dalam menulis cerita, berkaitan dengan penggarapan
struktur cerita yang telah disusunnya
siswa dapat mengubah watak pelau yang semula jahat menjadi baik. Atau siswa
dapat juga menyelipkan peristiwa lain dalam rangkaian cerita yang disusunnya.
Ø Penyuntingan
(Editing)
Penyuntingan merupakan penyempurnaan tulisan sampai pada bentuk
akhir. Sampai tahap ini, fokus utama proses menulis adalah pada isi tulisan
siswa dengan fokus berganti pada kesalahan mekanik. Siswa menyempurnakan
tulisan mereka dengan mengoreksi ejaan dan kesalahan mekanikal yang lain.
Tujuannya membuat tulisan menjadi “siap baca secara optimal” (optimally
readable). (Smith:1982).
Cara paling efektif untuk mengajarkan keterampilan mekanikal adalah
pada saat penyuntingan. Ketika penyuntingan tulisan disempurnakan melalui
kegiatan membaca, siswa lebih tertarik pada pemakaian keterampilan mekanikal
secara benar karena mereka dapat berkomunikasi secara efektif. Para peneliti
menyarankan bahwa pendekatan fungsional dalam pengajaran mekanikal tulisan
lebih efektif daripada latihan praktis. Aktifitas dalam tahap ini meliputi:
·
Mengambil jarak dari
tulisan
·
Mengoreksi awal dengan
menandai kesalahan
·
Mengoreksi kesalahan
Sebagai contoh, dalam pembelajaran menulis cerita, proses
penyuntingan merupakan tahap penyempurnaan tulisan cerita yang dilakukan
sebelum kegiatan publikasi cerita yang ditulis siswa. Pada tahap ini siswa
menyalin kembali draf yang telah dibuatnya ke dalam polio bergaris sehingga menjadi sebuah karangan yang utuh.
Pada saat yang sama siswa juga melakukan perbaikan kesalahan yang bersifat
mekanis berkaitan dengan ejaan dan tanda baca.
Ø Pemublikasian
(Publishing)
Pada tahap akhir proses
penulisan, siswa mempublikasikan tulisan mereka dan menyempurnakannya dengan
membaca pendapat dan komentar yang diberikan teman atau siswa lain, orangtua
dan komunitas mereka sebagai penulis. Pada tahap publikasi siswa mempublikasikan
hasil penulisannya melalui kegiatan berbagi hasil tulisan (sharring). Kegiatan
berbagi hasil ini dapat dilakukan diantaranya melalui kegiatan penugasan siswa
untuk membacakan hasil karangan di depan kelas (Tompkins,1994). Sebagai contoh
dalam pembelajaran menulis cerita, kegiatan publikasi dapat dilakukan dengan
menugaskan siswa membacakan hasil cerita yang telah ditulisnya, sementara siswa
lain memberikan pendapat berkaitang dengan cerita tersebut. Kegiatan sharing
lainnya dapat dilakukan dengan meminta orangtua siswa membaca dan memberi
komentar terhadap cerita yang telah ditulis siswa. Dengan demikian, dalam
kegiatan publikasi siswa mendapat beragam penguatan.
Harrah's Casino & Hotel - Mandiri - JtmHub
BalasHapusLocated in Harrahs Casino & 포항 출장안마 Hotel, 전주 출장마사지 the Mandiri experience is 용인 출장샵 here. Award-winning hotel offers guests 용인 출장안마 the 사천 출장샵 comfort of a modern hotel with an